Membangun sepak bola putri melalui kompetisi usia dini

… para pemain putri mulai berani benturan dalam merebut bola maupun saat menyerang.

Kudus (ANTARA) – Sepak bola merupakan olahraga yang selama ini nyaris identik dengan kaum pria. Bukan hanya dari para pemainnya, penonton yang menyesaki tribun pun didominasi laki-laki.

Namun, dalam perkembangannya, olahraga yang membutuhkan fisik prima, kemampuan mengolah bola, dan mengandalkan kemampuan berlari itu juga disukai kaum hawa.

Buktinya, banyak pendukung pemain sepak bola pria adalah kaum perempuan. Bahkan, saat laga berlangsung, kursi di tribun penonton banyak diisi kaum hawa yang menyaksikan serunya pertandingan sepak bola.

Hingga akhirnya lahirlah klub-klub sepak bola perempuan. Bahkan, di Indonesia sendiri pada tahun 1980-an sudah bergulir liga sepak bola perempuan: Galanita akronim dari Liga Sepak Bola Wanita.

Mereka tidak kalah lihai dalam mengolah si kulit bundar. Namun, sayangnya kompetisi domestik tersebut terhenti.

Kemajuan sepak bola putri saat ini lebih banyak didominasi oleh negara-negara luar, terutama di negara-negara yang kompetisi sepak bolanya sudah maju.

Tak mau ketinggalan dengan perkembangan dunia sepakbola putri di luar negeri, kini muncul inisiatif swasta yang ingin memajukan sepak bola wanita melalui kompetisi usia dini.

“Kompetisi sepak bola wanita usia dini ini merupakan langkah awal kami untuk memasyarakatkan,” kata Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin.

Dengan banyak generasi muda putri yang menyukai sepak bola, maka kompetisi sepak bola wanita usia dini juga bisa digelar.

Untuk itulah, organisasi itu bersama perusahaan minuman menggelar program “Milklife Soccer Challenge” sebagai program pembinaan dan memasyarakatkan dari level siswi SD pada Juni 2023.

Pada tahap awal tersebut berupaya menarik sebanyak mungkin minat dan kecintaan masyarakat terhadap sepak bola putri.

Langkah awal yang ditempuh, yakni dengan melatih guru olahraga di sejumlah SD bisa menjadi pelatih sepak bola yang andal dengan menghadirkan Timo Scheunemann, pelatih sepak bola berlisensi UEFA A.

Berbeda dengan sepak bola dewasa, sepak bola putri U-10 dan U-12 menggunakan bola ukuran empat dengan diameter 63,5 hingga 66 sentimeter dan berbobot 0,33-0,36 kilogram. Luas lapangan pun menyusut menjadi 24×40 meter dan gawangnya berukuran 2×5 meter. Adapun durasi permainan hanya 2×10 menit dengan waktu istirahat selama 5 menit.

Jika sepak bola umumnya berkekuatan 11 orang pemain, pada pertandingan sepak bola putri ini, satu tim terdiri dari tujuh pemain.

Setelah masing-masing sekolah membentuk tim dan melatih anak didiknya, kemudian digelar kompetisi tingkat SD.

Dari kompetisi awal berhasil menjaring 32 SD yang bersedia membentuk tim sepak bola putri untuk kelompok usia 10 tahun (U-10) dan usia 12 tahun (U-12). Adapun jumlah tim yang terbentuk dan mau mengikuti kompetisi sebanyak 61 tim sehingga total ada 729 siswi yang ikut dalam turnamen yang digelar di Kabupaten Kudus tersebut.

Meskipun pada kompetisi awal belum memperlihatkan kemahiran anak-anak usia SD menendang maupun menggiring bola, antusiasme masyarakat menyambut hadirnya kompetisi sepak bola putri tersebut sangat tinggi.

Hal itu bisa dilihat dari dukungan pihak sekolah maupun keluarga masing-masing pemain yang ikut memberikan dukungan dengan kehadiran mereka di Stadion Supersoccer Arena Rendeng Kudus.

Sambutan masyarakat menyambut hadirnya kompetisi sepak bola wanita tingkat SD itu berlanjut dengan banyaknya pihak sekolah yang mengajukan penawaran untuk diikutkan dalam pertandingan tersebut.

Jika sebelumnya hanya diikuti sekolah dasar (SD), maka setelah melihat kemeriahan pada awal kompetisi akhirnya menarik minat sekolah bercirikan Islam atau madrasah ibtidaiyah (MI) untuk bergabung dalam kompetisi tersebut.

Hasilnya, pada kompetisi lanjutan yang digelar pada bulan Agustus hingga awal September 2023, jumlah pesertanya membeludak karena mencapai 106 sekolah, sebanyak 40 sekolah di antaranya merupakan MI dan selebihnya SD. Adapun jumlah regu yang mengikuti ada 175 tim.

Dari jumlah tim sebanyak itu, jumlah pesertanya juga meningkat signifikan menjadi 2.100 orang.

Dua putaran kompetisi yang digelar tersebut, akhirnya muncul bibit muda berkualitas di bidang sepak bola wanita. Di antaranya, ada Asyifa Sholawa Farizqi yang menjadi top skor dalam dua turnamen serta Alesha Farzana Aznii Putri Aji pada turnamen kedua.

Asyifa, pelajar dari SD 2 Rendeng yang turun di kelas U-12, juga mendapatkan predikat pemain terbaik sehingga semakin memotivasi teman-teman lainnya untuk meningkatkan kemampuan bermainnya.

“Dari hasil pemantauan, terdapat siswi SD yang memiliki bakat sepak bola meskipun sebelumnya tidak mengikuti sekolah sepak bola (SSB). Asyifa sebelumnya memang mengikuti SSB, sedangkan yang tidak mengikuti SSB ada nama seperti Della Citra Ayu Anggraini siswi SD 1 Pedawang,” ujar Timo Scheunemann, pelatih sepak bola berlisensi UEFA A yang terlibat dalam penyelenggaraan kompetisi sepak bola wanita.

Digelarnya turnamen sepak bola wanita usia dini akhirnya memunculkan nama-nama pesepak bola wanita junior yang selama ini sudah bergabung di SSB di daerahnya masing-masing. Jika di Kudus terdapat Asyifa Sholawa Farizqi yang sudah bergabung di SSB, terdapat pula kakak beradik Rara Zenita Fatin dan Rere Zenita Farza yang berasal dari SDIT Bumi Kartini Jepara.

Sementara atlet putri yang benar-benar berangkat dari nol dan tidak ikut SSB, kata Timo, juga banyak dan mulai menunjukkan perkembangan kualitas bermainnya. Sebut saja, Kama Suraya yang menjadi pemain terbaik serta Aliya Putri Ariyanto yang merupakan seorang penjaga gawang juga menjadi pemain terbaik dan kiper terbaik.

Pada awal turnamen, Aliya Putri tidak berani menangkap bola, bahkan ketika ada tendangan justru menghindar karena takut. Namun, saat ini setelah mengikuti turnamen yang ketiga ternyata lebih berani.

Untuk mencari bibit muda sepak bola wanita, diakui memang bukan pekerjaan mudah. Akan tetapi, melihat dari komitmen Djarum Foundation, dirinya juga optimistis bisa terwujud karena saat ini sudah mulai banyak dukungan masyarakat.

Hal pertama yang harus digapai untuk mewujudkan sepak bola putri, banyak kaum hawa yang mencintai olahraga sepak bola sehingga nantinya mudah mencari bibit muda berbakat ketika banyak yang menyukai olahraga yang selama ini digeluti kaum laki-laki tersebut.

Persyaratan selanjutnya, adanya pembinaan dan kompetisi reguler yang digelar sehingga latihan yang mereka lakukan setiap hari atau setiap pekannya tidak sia-sia karena ada ajang kompetisi yang bisa mengukur kemajuan prestasi masing-masing individu.

Akselerasi kemampuan

Setelah dua kali turnamen sepak bola digelar dan muncul bibit-bibit muda berbakat, akhirnya muncul gagasan untuk melakukan akselerasi peningkatan kemampuan pemain sepak bola putri dengan memasukkan pemain putra seusia mereka dalam satu tim.

Gagasan mencampurkan pemain putri dengan putra diwujudkan dalam turnamen ketiga yang digelar pada 15-17 Desember 2023.

Berbeda dengan turnamen dua edisi sebelumnya, turnamen sepak bola putri kali ini melibatkan pemain laki-laki melalui sistem pertandingan 7 melawan 7, baik itu tim U-10 maupun U-12 yang masing-masing diikuti 20 tim.

Adapun komposisi pemain setiap tim, terdiri dari lima pemain putri dan dua pemain putra dalam sebuah tim di atas lapangan.

“Perubahan komposisi pemain pada turnamen kelompok ketiga ini hanya upaya akselerasi peningkatan kemampuan pemain putri, demi mengembangkan bakat mereka menjadi pesepak bola profesional putri,” ujar Yoppy Rosimin.

Timo Scheunemann mengakui perubahan komposisi pemain memang bertujuan meningkatkan kemampuan atlet putri sehingga pemain pria memang dilarang menendang bola dari depan gawang sendiri langsung ke gawang lawan.

Masing-masing tim diminta bisa mencetak gol melalui proses kerja sama tim sehingga upaya transfer kemampuan pesepak bola putra ke putri bisa terjadi karena ada kerja sama antara pemain putra dan putri.

Selain itu, pemain putri juga menjadi lebih berani. Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa pemain putri di Indonesia. Termasuk, kompetisi sepak bola putri yang ketika digelar dengan menambahkan pemain putra di dalamnya.

Mohammad Islam Andhika Dwiki Putra, pelatih sepak bola putri dari SD 3 Pedawang, mengakui program pencampuran pemain ini memang bagus karena bisa mengakselerasi kemampuan pemain putri.

Hanya saja,  harus tetap ada rambu-rambu untuk laki-laki agar tidak mendominasi, melainkan proses umpan dari kaki ke kaki atau kerja sama tim menjadi prioritas agar pemain putri juga mengalami peningkatan kemampuan.

Hasil evaluasi sementara dari hasil pertandingan tim asuhannya, Gatotkaca, diakui para pemain putri mulai berani benturan dalam merebut bola maupun saat menyerang.

“Kehadiran kompetisi sepak bola putri ini sangat kami apresiasi, karena di Indonesia memang minim bibit pesepakbola putri,” ujarnya.

Keuntungan lainnya, siswi SD kini memiliki jiwa sosial yang tinggi serta mulai terbiasa bekerja secara tim.

Dampak negatif dari pengaruh gawai, kini juga semakin berkurang karena setiap pekan ada jadwal latihan sepak bola.

Apresiasi digelarnya turnamen sepak bola putri tingkat SD juga disampaikan orang tua atlet sepak bola karena pelajar SD putri yang memiliki ketertarikan terhadap olahraga sepak bola ada wadahnya.

“Saya sangat senang karena anak saya yang sebelumnya senang bermain futsal dengan kakak laki-lakinya, kini bisa menyalurkan hobinya lewat kompetisi sepak bola putri ini. Tentunya ini juga menjadi sinyal mencari bibit atlet sepak bola putri semakin mudah,” ujar Erlina Rusmayanti, orang tua atlet sepak bola putri Mardhea Quensha (11) yang merupakan siswa SD NU Nawa Kartika Kudus.

Jika sebelumnya anak putri tabu bermain sepak bola, kini di Kabupaten Kudus mulai terbiasa melihat seorang siswi SD lincah bermain sepak bola di lapangan.

Hadirnya turnamen sepak bola putri secara rutin, tentunya akan semakin meramaikan tontonan kompetisi sepak bola putri di Tanah Air, dari sebelumnya tontonan didominasi tayangan sepak bola laki-laki. 

 

Editor: Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *