Seto Nurdiantoro, Ramai Soal Shin Tae Yong hingga Dibuang PSS
Berita Bola Indonesia

Seto Nurdiantoro, Ramai Soal Shin Tae Yong hingga Dibuang PSS

Advertisement
QQRoyal Judi Slot & Casino Online Terpercaya di Asia
Advertisement
Ultra88 Judi Slot dan Casino Online Terpercaya di Asia
Advertisement
Q11Bet Judi Casino IDNLive & Live Poker Terpercaya Asia
Advertisement
Royal188Bet Judi Slot & Casino Online Terpercaya Asia
Advertisement
Situs Judi Bola 88 Online, Judi Dadu Online Uang Asli | Go88Bet
Advertisement
Poker365 Situs Domino Ceme dan Poker Online Terpercaya

Seto Nurdiantoro, Ramai Soal Shin Tae Yong hingga Dibuang PSS

Beritasport –  Penggemar Liga PSS Sleman 1 mengekspresikan kemarahan mereka di media sosial Twitter setelah klub tidak memperpanjang kontrak Seto Nurdiantoro sebagai pelatih. Kekesalan itu diungkapkan dalam tagar #BCSMContenders yang populer di Twitter.

Nama Seto Nurdiantoro pernah dikutip di media nasional selama pertukaran kandidat untuk asisten pelatih tim nasional Indonesia, Shin Tae Yong. Sekarang dia bahkan kalah dari PSS.

“Lompatan mematikan tanpa kembali,” kata akun Twitter. Klub seharusnya tidak menghargai kerja keras Seto Nurdiantoro, yang berhasil mendapatkan promosi PSS ke Ligue 1 musim lalu. Berkat tangan dingin pelatih, Elang Jawa selesai di tengah meja atau kedelapan kualifikasi 2019 Ligue 1.

Seto sekarang digantikan oleh mantan asisten Luis Milla dari tim nasional Indonesia, Eduardo Pérez. Digadang tinggal bersama Shin Tae Yong sebagai asisten pelatih. Namun, namanya belum termasuk dalam jajaran asisten pelatih tim nasional Indonesia yang diumumkan oleh PSSI.

Seto telah menghabiskan sebagian besar karir sepakbolanya di Yogyakarta, sebagai pemain dan pelatih. Ketika dia menjadi pemain, dia tidak akan pernah jauh dari Kota Siswa.

Seto, yang bernama asli Metheus Seto Nurdiantoro, memulai karirnya sebagai pemain profesional di PSS Sleman dari 1990 hingga 1995. Dia pindah ke PSIM Yogyakarta selama tiga musim pada 1995-1998, sehingga meningkatkan kariernya.

Pada tahun 1998, Seto mencoba peruntungannya di Yogyakarta, tetapi tidak jauh dari kota Gudeg, yaitu Solo. Solo, Seto bergabung dengan Pelita Solo dari tahun 1998 hingga 2000. Keputusan ini menjadi yang paling jauh bagi pelatih 45 tahun karir bermainnya.

Setelah dua musim solo, Seto sekali lagi nostalgia dengan kampung halamannya di Yogyakarta. Dia juga memilih untuk kembali ke Sleman dan bermain lima tahun dengan Super Elang Jawa. Di PSS, Seto memiliki kesempatan untuk membuktikan gelar Divisi I 2000.

Setelah lima tahun bersama PSS, Seto pergi ke klub saingannya, PSIM, kemudian berkarir bersama Persiba Bantul, dan mengakhiri karir bermainnya dengan Laskar Mataram pada 2013. Performa terbaik Seto sebagai pemain ketika ia membawa juara Liga Premier Persiba ke Indonesia, 2010/2011.

Juga dicatat bahwa pelatih kelahiran Kalasan, Sleman, pada 14 April 1974, adalah pemain di tim nasional Indonesia pada 1999-2001. Dalam 14 pertandingannya dengan tim Garuda, Seto, yang bermain sebagai gelandang, berhasil mencetak tiga gol.

Seto adalah legenda sepakbola Yogyakarta sejati. Tidak hanya karir bermainnya, kehidupannya sebagai pelatih juga telah dimainkan di Yogyakarta, setidaknya sejauh ini.

Karier pelatihannya di Seto dimulai di PSIM Yogyakarta sejak pensiun dari 2013 hingga 2015. Dia juga bertanggung jawab menjaga tim pra-PON (Pekan Olahraga Nasional) dari Yogyakarta sebelum PON 2016 di Jawa Barat.

Dua musim kemudian, giliran PSS merasakan tangan dingin Seto. Pada puncaknya, Super Elang mengantar Jawa Seto ke kasta tertinggi di sepakbola Indonesia, Ligue 1 2019 setelah memenangkan Ligue 2 2018.

Di tangan Seto, PSS tidak hanya mendapatkan kartu 2019 Ligue 1, tetapi juga menjadi kuda hitam. Pada musim pertama di Ligue 1, PSS bisa lolos ke urutan kedelapan di peringkat terakhir musim ini dan bertahan di Ligue 1 2020. Sementara dua tim promosi lainnya, Semen Padang dan Kalteng Putra, terdegradasi.

Kecemerlangan Seto sebagai arsitek tim sepak bola terkait erat dengan lisensi Pro AFC yang diperolehnya pada 2019. Pada level ini, ia menjadi lulusan terbaik kedua dari 20 peserta sebagai pelatih.

Banyak yang percaya bahwa Seto akan menjadi salah satu asisten Shin Tae Yong karena kecemerlangannya dengan PSS. Namun, nama itu hanya merujuk pada perpanjangan kandidat. Pelatih berusia 45 tahun itu bahkan tidak dipekerjakan di PSS, meskipun layanannya cukup penting untuk membatalkan klub.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *